Lisa Ho
  • herenow
  • traces
  • ruminations
  • who?
  • herenow
  • traces
  • ruminations
  • who?
Search by typing & pressing enter

YOUR CART

ruminations



  • ART Gado Gado Exhibition Catalog Design and Curator’s Essay
  • COVID Chronicles
  • Your Blood From My Turnip
  • ​Tiga Vinyet Kesenian Jawa_
  • Infinity | Change
​

 
ART Gado Gado Exhibition Catalog Design and Curator’s Essay (February 2025)
PictureART Gado Gado Exhibition Catalog cover art: Kahayag Royo-Faye “Mud Light” (2024)
No man is an island?
Have you considered the archipelago?




“No man is an island,
Entire of itself;
Every man is a piece of the continent, 
A part of the main.” 
— John Donne (1624)


​
The artist’s calling to both observe our shared existence and step away from the collective norm — using creative voice to narrate a fresh view of the world — offers a challenge to the ingrained metaphors furnished by Donne: that islands are detached and isolated, and that a central model exists for the human experience.
The artist exists in a figurative archipelago, as an island in a community of islands – both separated and connected by the surrounding water, with just enough distance to see (yet be apart from) the din of the quotidian.
The artist in diaspora coexists at multiple touchpoints — be those touchpoints planted roots or borrowed memories — in both new and old lands, and navigates shifting notions and sensations of belonging and foreignness, insider and outsider, backstage participant and observing audience.

Through these complex layers of simultaneously comforting and confounding richness and chaos, the archipelago artist in diaspora is cultivating and conjuring artistic vision by consciously and subconsciously honoring, interrogating, countering, channeling, preserving, reclaiming, and recreating the context, symbols, meaning, and influences of ancestors, predecessors, contemporaries, and the interdependent islands of their inherited and chosen archipelago lands, waters, and communities.
Once we’ve been gifted a glimpse of life and place through the artist’s kaleidoscope – to witness their reflection of the world around them and vulnerable exhalation of the reality within them — Donne's metaphor of a single continental standard for the human family collapses like the breakup of the ancient Pangaea supercontinent. 
The California artists featured in this inaugural ART Gado Gado exhibit and catalog reflect only a fragment of the Indonesian archipelago’s diversity, which is further multiplied across the diaspora experience, not only in facets of ethnicity, religion, and province of family origin, but also by historic events at the time of departure, migration motivations, as well as temporal and generational distance from the migration event. Personal and family choices and circumstances further refract the diaspora experience into infinitely unique permutations of Indonesian-ness.

Artistic practices have a special place in the realization and presentation of identity because they are usually framed as heightened forms of representation for public perception, practice, and effects.
— Thomas Turino and James Lea (2004)  Identity and the arts in diaspora communities
ART Gado Gado celebrates you, the archipelago artists of the California-Indonesian diaspora. We recognize the value your art and personal expressions have in discovering, cultivating, and interpreting the collective identity and experience of the Indonesian diaspora. Through the ART Gado Gado exhibit and catalog we endorse and honor your current, past, and future artistic journeys and community-making.

 
COVID Chronicles (October 2022)
Picture

 
Your Blood From My Turnip (2015?)

A radiant spark
crackles and leaps
from glowing embers
into tall arboreal shadow
toward celestial fires.

I think of you, sayang,
dancing into the world
flying on imagination
drinking life's beauty
alighting with a passion.
​
A fancy of the wild
is lit in your eye,
deep, rich, smouldering,
irises black as night at birth.
Tresses draped in gypsy scarves
​-- as once I wore...

But whence your supple song:
word and note enfolded?
And agem curvaceous:
finger, head, hip, and toe
balanced with grace?
Not milked from my breast.

From alchemic reaction
at the intersection of world axes?
Life Force spices -- cinnamon and ​shakti
mixed in a cauldron within me?
Far more than marriage of genes --
a magnetic new essence.
That you claim me as your own
Feeds my thirst for your sari.



 
Tiga Vinyet Kesenian Jawa ​(November 2021)
​
Vinyet Pertama: Gamelan

Waktu itu seolah-olah saya menghuni gedung musik untuk mengikuti mata kuliah teori dan sejarah musik, serta praktek dengan kelompok-kelompok orkes, dan berlatih bermain flute berjam-jam setiap hari. Sering ada pentas dari kelas mahasiswa pada jam makan siang, dan suatu hari bunyi-bunyi yang bergaung di
lorong-lorong belum pernah saya dengar sebelumnya, jadi saya tertarik untuk masuk ruang auditorium. Yang saya lihat di panggung mengagumkan saya. Ilusi saya seperti saya mengintip di dalam sebuah arloji, dan mekanismenya diwujudkan seribu kali lebih besar di depan mata saya sebagai sebuah mesin yang dibuat dari manusia dan logam. 


Tiap orang yang duduk di lantai panggung memegang sebuah palu kayu dan memukul instrumen perunggu yang di depannya dengan kecepatan dan irama sendiri-sendiri. Tetapi semuanya cocok satu sama yang lain, seperti menonton roda gigi dengan ukuran berbeda-beda tetapi saling terkait putarannya. Instrumen yang besar dibunyikan secara lambat, dan instrumen ukuran sedang membagi-bagi iramanya bergantian denyutnya. Terus instrumen yang kecil diketuk dua kali lipat kecepatannya dari yang sedang, dan ada yang lain juga yang menambah pola irama yang menarik. Semua instrumen gemilang di bawah lampu teater, dan nadanya berputar-putar tanpa permulaan atau akhir, sampai saya merasa terhipnotis dan seperti berada di dalam pabrik pandai besi yang indah. 


Dari perkenalan itu, saya terus ikut belajar gamelan dan tarian Jawa, dan sampai sekarang masih merasa terbawa ke dunia khayalan dengan seni yang indah ini. Saya akan menceritakan dua pengalaman lagi sewaktu saya menikmati kesenian Jawa.


~*~
Vinyet Kedua: Wayang Kulit


Dengan tiupan nyawa ke dalam helai-helai wayang kulit yang terukir dengan lekok-liku yang sangat rumit dan halus, sambil menyemarakkan dan merancang lapisan keterangan dan kegelapan, Ki Midiyanto membubarkan perbatasan layar dua dimensi di mana lakon cerita terbabar. Beliau membuat kesatria dan senjatanya terbang, melompat dan berguling dalam adegan perang yang legendaris. Ia menyanyikan sulukan Sansekerta untuk mewujudkan keagungan pertemuan di istana, dan menimbulkan dukacita atau guyon dengan gerakan dan permainan suara yang halus. 


Dengan kepyak yang didentang dengan kakinya dan cempalah kayu yang diketok pada kotak simpanan wayangnya, Midiyanto memimpin gamelan yang terdiri dari instrumen perunggu, kendang, rehab, dan pesinden. Bunyi musiknya berguntur dengan mars perang, menjadi meditasi tenang dan damai, atau meleleh menjadi ratapan pedih, tergantung kemauan Midiyanto. Suara istrinya Heni Savitri yang mulus dan mempesona menghiasi tenunan suara dari instrumen. 
Ki Midiyanto telah menjiwai kesenian dan filsafat wayang kulit Jawa asli sejak kecil, tapi keahliannya juga dibumbui dengan rasa kehidupan dan pekerjaan mengajar selama tiga dasawarsa di Amerika Serikat. Midiyanto dan Heni adalah seniman unggulan di Jawa dan mancanegara, dan sering menjadi tamu pentas dan pengajar untuk kelompok-kelompok gamelan di seluruh Amerika Serikat. 


Midiyanto menyuarakan tiga bahasa — Jawa, Indonesia, dan Inggris — untuk mengungkapkan kepada penonton Amerika drama, filsafat, dan humor dari cabang seni Jawa ini yang sekaligus kuno dan modern. Sang dalang merangkaikan penonton, pengrawit, cerita leluhur, dan peristiwa sesaat dalam satu penjelajahan. 


Di depan layar, biarkan diri lenyap berkhayal sambil menonton bayangan menakjubkan, atau mengintip ke belakang layar untuk menyaksikan Midiyanto dan penabuh menciptakan ilusi dengan suara dan cahaya. 


~*~
Vinyet Ketiga: Tari Srimpi
 
Dari kesunyian malam hangat dan udara kental, penari muncul dari kegelapan yang monokrom. Sebagai satu jasad, dengan mulus dan mantap mereka hadir. Emas dan permata yang membubuhi seragam kebesarannya berkilap sementara mereka menyeberang ambang cahaya. Gerakannya serempak. Dengan jarinya terangkat, kakinya melinyar di atas ubin yang teroles, dan terapung sejenak, lalu menginjak alas bangsal dengan tegas sekaligus halus. Pasukan anggun berbaris maju. Tiap langkah terletak dengan tepat sampai jambul bulu burung onta warna kejutan buah naga tidak bergemetar. Dari kain panjang yang terseret di belakangnya, daun mawar tersebar seperti jejak bidadari. 
     
Sampai tengah soko guru, depannya perarakan itu mendak, condong ke kanan dan berputar menghadap ke depan, terus maju mendekati Sang penonton. Seperti ombak gerakan ular, setiap penari berturut-turut mendak, condong, putar, lalu menghilang dari pandangan di belakang yang pertama.


Lalu dia berhenti. Selama sesaat penuh harapan penari tunggal berdiri tegap seperti dewi bergemilang. Lengan ramping telanjang menyentuh beludru ungu halus rompinya dibordir dan dirumbai emas. Ia mengayung-ayung, terus sebagai permainan kaca, satu penari menjadi naga dengan dua kepala, lalu terbelah menjadi empat penari. Seakan-akan keajaiban satu sel menjadi dua, lalu empat, penari-penari ambil posisi pojokan segi empat yang mistik. Mereka jongkok tanpa bobot dan duduk bersila. Sajian tari baru akan mulai. Saya terlepas dari mantranya sesaat, dan bernafas perlahan dan dalam. Dengan kesucian suara pesinden dan bergemanya gong ageng, penari menoleh perlahan-lahan dan nyembah lalu berdiri untuk menari. Saya terbawa lagi dengan arus gending, jiwa seperti terpisah dari awak dan melayang di tengah pendopo menikmati penari anggun dan berwibawa menghidupi pusaka budaya peninggalan leluhur ini.

​

 
Infinity | Change (with homage to Octavia Butler) (May 2024)
Picture
Picture
Picture
Picture
I haven’t had the chance in quite a while.
(though decades wouldn’t matter)
to see sunlight through the clear curvature of your eye
  like an antique perfume bottle of aqueous humour 
or soak up heat in my palm from your sun-toasted corn-silky hair 
or watch you sleep in a patch of sunlight on the wood floor
or on my lap, head resting on my arm stretched to a keyboard, aching but afraid to disturb your peace   
  after unexplainable tears and fears are temporarily spent
or by my side, the length of my torso, tucked between my arms and bent knee

*
I’ll loop these favorite vignettes 
when my fingers don’t remember the sonatas and limbs have forgotten the dances.

But if soapy waves carry away names and words 
and recognition and reasoning retreat to mountain peaks behind cloud cover, 
as much as I have loved them, if I can no longer reach them,
it will be time to let me go.

*
Just as now I watch you go
 from my side
And a score plus one year ago you left
 from my inside.

The wheel turns, the blender churns, the child learns
a new vision to carry into the world
soothing angst of death’s infinite emptiness:

*
A single microbe, to me: is my life, to eternity.
​Consciousness bounded by your skin, yet bacteria live and die within
You don’t think of them as self, but they sway your mood, persistence, health

        We are part of the universe

Stardust elements rearrange, and everything we touch we change.


 
Powered by Create your own unique website with customizable templates.